Sepenggal kisah. Kau dan aku
Malam itu langit begitu gelap, hitam. Tiada setitik bintangpun yang tampak. Wajah sang rembulan juga suram, sinarnya temaram. Siluet awan coklat kehitaman tampak lelah, diam, tak berjalan. Silir angin Februari perlahan mengentalkan darah, menyapa apa saja yang dilaluinya, daun, burung, air, debu, aku, dan (mungkin) juga kamu.
Lampu-lampu kota hanya menerangi jalan-jalan dan taman-taman. Cahayanya tak sampai ke atmosfer. Kereta malam berlalu lalang bagai dalam tanah. Tak bersuara. Menambah keheningan langit malam itu.
Di bawah langit malam yang tengah berduka itu seorang laki-laki bermata coklat tertunduk lesu, kepalanya penuh tanya. Wajahnya pucat tak berdaya melawan derasnya arus kehidupan. Tangan kasarnya membiru oleh resah dan gelisah yang tak kunjung lekang.
Laki-laki itu mematung sembari memelototi kopi nya yang hitam, pekat, serupa langit malam itu. Ia tinggikan cangkir, menaruhnya pada bibir, diseruputlah kopi rasa cemas itu dengan perlahan. tersendat-sendat, seperti akan kehabisan nafas. Menyeruput kopi semestinya membawa kedamaian ke dalam jiwa, batinnya berharap. Ia seruput kembali kopinya sampai habis, tak tersisa. Namun, tiada yang berubah, rasa cemas itu justru bercampur dengan ampas kopi, melekat kuat di bibirnya yang tak merah. Renyah ketawanya telah dibawa terbang oleh asap rokok yang berhamburan dari bibirnya, lalu menghilang tak berbekas. Semburat cahaya dari ujung rokok yang dihisap dalam-dalam begitu menyilaukan, sehingga sorot matanya yang tajam tak lagi mampu membelah kesedihan. Air matanya masih terus berjatuhan, membasahi kerongkongan hingga ke paru-paru, menyuburkan sesak yang tertancap di dadanya.
Laki-laki itu aku, laki-lakimu yang menjadi tak berdaya.
Sementara dalam ruang yang begitu sunyi, seorang wanita bertubuh sintal terbaring lemas, seluruh tubuhnya penuh dengan cemas. Matanya gelisah, mengingatkan pada riak ombak di pantai selatan, menggulung memanjang terpotong-potong. Mematikan. Bibirnya membisu, di wajahnya tergambar pilu. Ia menunggu namun tak ingin (benar) menunggu. Bagai tersesat dalam hutan belantara tanpa petunjuk arah, sang rembulan juga sedang pelit untuk sekedar membagi sinarnya sebagai penuntun langkah. Wanita itu benar-benar linglung. Ia naik perlahan lalu jatuh pada ketiadaan.
Batinnya mungkin saja berteriak, merontah meminta tolong. Namun, tak sekalipun bibirnya yang lembut itu menjerit. ia telah melupakan gemetar di dadanya, memagarinya dari setiap resah yang mendekat. Entah bagaimana ia melakukannya, air matanya seakan telah tertampung oleh rasa berserah, sehingga tak setetes pun tumpah. Pada pundaknya bertumpuk segala pengharapan. Kakinya yang kuat terus saja melangkah penuh keyakinan, seakan telah melihat jalan keluar. Semakin terjal jalan, semakin langkahnya tak dapat dihentikan.
Iya, dia wanita yang tangguh, wanita yang begitu aku cintai. Gandis namanya.
Sayangku, kau dan aku sependapat, malam itu terasa begitu lambat. Waktu seakan telah berhenti, sang fajar pun enggan menghampiri. Kau dan aku terkurung dalam gelap, berselimut ketakutan, kita terlelap. Kau dan aku bersama, berbagi resah yang sama. Kau dan aku saling menguatkan, tak ada detik berlalu tanpa saling mendoakan. Kau dan aku satu, meski terkadang dipisahkan oleh ketakutan-ketakutan yang enggan menyatu.
Malam-malam berikutnya begitu adanya, rasanya masih begitu lama. Matahari belum juga tersingkap, bagai ditelan bumi. Seperti telah kehilangan siang, setiap waktu seperti jam 12 malam, tanpa hiasan bintang juga cahaya rembulan. Setiap nafas, setiap langkah, dan setiap tenaga yang kita upayakan kala itu adalah ketakutan yang harus kita lawan. Begitulah, setidaknya dari akhir Januari hingga awal Maret. Kita terbelenggu.
Di bawah rembulan abu-abu itu, kau terus melangkah, mendayung, membelah telaga di mataku, menyeka peluh di dadaku. Hatimu berkilauan, memberi terang dalam kegelapan. Sekali lagi kau menjadi tempat bermukim segala pengharapan.
Kakimu kini telah sampai di seberang. Wajahmu menjadi begitu datar. Aku melihat air mata tertampung dalam indah matamu. Tak jatuh memang, namun air mata itu telah membanjiri seluruh organ di tubuhmu, mengalir bersama darah. Aku lupa wajahku kala itu, aku hanya mencium lembut keningmu, mengelus rambutmu yang mulai kasar karena lupa keramas, lalu memelukmu dengan sangat erat. Tubuhmu menggeligis seperti ingin kembali.
Seketika aku lepaskan pelukan, pada pipimu ku rekatkan kedua tangan. Dengan sorot mata yang amat tajam, aku berusaha meyakinkanmu bahwa kakimu telah berpijak di tempat yang diimpikan, bahwa dengan kembali sama halnya memupuk luka. Aku mengajakmu melanjutkan langkah, bawa serta perasaanmu yang masih berkecamuk, sebab kini bahuku menjadi sangat kuat, letakkan semua beban di sana. Sebab kini, Laki-lakimu telah kembali.
Dari ufuk timur, sang fajar mulai tampakkan diri, setelah sekian lama bersembunyi. Dengan cepat ia menaiki langit. Cahayanya menguningi seisi bumi. Angin menyapa tenang, pohon-pohon di taman kota itu pun menari. Awan kalis bergelantungan, bermain bersama, berkejaran satu dengan yang lainnya. Langit tampak benar-benar gembira, warnanya biru terang. Tersenyum hangat pada kita berdua.
Kau dan aku pun tak sanggup membendung kegemberiaan siang itu. Kita mulai bertukar canda dan tawa. Rasa syukur berjatuhan tanpa sanggup kita kendalikan. Segala kecemasan dan ketakutan yang sekian malam mendera seketika gugur berjatuhan. Seperti hidup baru akan kita mulai. Hari itu memang bukan 17 Agustus, namun kita merdeka.
Kita telah kembali. Senjamu kini tampak lebih indah, setelah kau lupakan pada banyak sore.
Aku ingin duduk di tepi danau, sebagai tempat untuk kita jatuh cinta berkali-kali. Pada bahuku sebelah kiri ada kepalamu rebah. Rambutmu berkilat-kilat keemasan oleh senja sore itu. Di sekeliling danau, berdiri gagah pohon bungur yang bunganya beguguran. Angsa-angsa putih berenang pelan, memutari seisi danau. Sayapnya sesekali memercikkan air danau yang coklat kekuningan. Seperti sedang menghibur kita berdua. Kita duduk tenang di sana, menikmati senja hingga habis.
Bersamamu, senja adalah keindahan yang tak mungkin dilewatkan. Untukmu, senja menjadi bingkisan wajib dalam setiap perjalanan.
Kau dan aku kembali.
***
Sayangku, rasanya menyenangkan sekaligus membanggakan bisa berada di sampingmu, menjadi satu-satunya yang kau cintai hingga detik ini. Meskipun terpaan datang dari segala penjuru, cobaan menusuk bagai peluru. Kita bertahan, melewati setiap rintangan.
Kau tahu, aku bukan orang yang terbiasa berdiam diri dengan waktu yang cukup lama. Kau tahu, aku bukan orang yang hatinya bisa dengan mudah ditaklukkan.
Namun di pekaranganmu, aku menjadi betah berlama-lama, dalam pelukmu aku merasakan kantuk yang luar biasa, di sana aku ingin terlelap. Dan pada hatimu aku telah benar-benar jatuh, tanpamu jiwaku rapuh. Maka hanya denganmu aku utuh. Sungguh.
Sebagai lelaki, aku (mungkin) pernah menyakitimu, mengkhianatimu, membuatmu menangis di pojok kamar semalaman. Kau terluka.
Aku orang yang penuh kekurangan, aku orang yang masih butuh banyak belajar. Aku tak benar-benar pandai bersyukur. Jauh dari kesempurnaan. Tapi bukankah atas segala kekurangan yang ada padaku kau datang untuk menjadikan hidupku sempurna, menjadikan hidupku penuh warna. Sayang, Bersamamu aku tak butuh keindahan yang diimpikan banyak orang. Segalanya terasa cukup. Percayalah.
Ini aku adanya, sayang. Aku tak sesempurna kau di mataku. Terima aku, cintai aku sebagai orang yang selalu berusaha memberimu bahagia, lagi dan lagi. Sempurnakan setiap kekurangan yang kau temui dalam diriku. Seperti aku, tak perlu menunggu segala yang ada di dirimu sempurna. Andaipun kekurangan itu ada padamu, maka datanglah padaku, bawa semua kekuranganmu itu. Selama aku sanggup mengatasinya, ikhlas menerimanya, kekuranganmu itu tak lagi penting, kekuranganmu bukanlah persoalan, aku tetap memilihmu. Dan aku yakin. Tapi tidak, sayang. Kau terbebas dari segala macam kekurangan, segala yang ada di dirimu adalah kebaikan bagiku, kau sempurna. Di mataku.
Percayalah, kau masih bisa bahagia memilikiku. Yakinlah, bahagia selalu tentang menerima dengan lapang. Seperti aku.
Sayang, aku tak memintamu untuk melupakan semua dosaku. Ingatlah, mencintai bukan tentang melupakan, sang pecinta adalah pengingat paling baik. Ingat dosaku sedalam kau bisa. Ingat dosaku sebagai cara untuk menuntunku menjadi lebih baik. Aku hanya berharap kau mau berbesar hati untuk selalu memaafkan, merelakan hatimu yang suci untuk aku cintai, dan menyediakan tempat bagi setiap senja yang ku bingkai untukmu pada banyak sore.
***
Sayang, ini ulang tahun keduamu bersamaku. Aku bersyukur, bahwa untuk sampai pada titik ini banyak jalan terjal yang harus kita lalui, kesabaran begitu sering diuji.
Sengaja aku tuliskan kisah yang teramat pilu di awal, sungguh bukan maksudku mengulang ingatan. Ini hanya sedikit cara untuk menyadarkanmu bahwa kita begitu kuat, bahwa setiap lorong gelap mempunyai akhir yang terang.
Selamat ulang tahun, sayang. Tak ada doa dariku, sebab mimpimu adalah mimpiku. Jadi tetaplah di sini, jadilah bagian dari terwujudnya mimpi-mimpi indah itu. Sebagai penutup, izinkan aku mencintaimu, menjagamu, menemanimu seperti kau yang telah bersedia menemaniku berjuang, mengarungi pasang surut kehidupan. Izinkan aku, sayang.
Oktober, 2016
Dalam Indah Matamu
#GOTW
Lampu-lampu kota hanya menerangi jalan-jalan dan taman-taman. Cahayanya tak sampai ke atmosfer. Kereta malam berlalu lalang bagai dalam tanah. Tak bersuara. Menambah keheningan langit malam itu.
Di bawah langit malam yang tengah berduka itu seorang laki-laki bermata coklat tertunduk lesu, kepalanya penuh tanya. Wajahnya pucat tak berdaya melawan derasnya arus kehidupan. Tangan kasarnya membiru oleh resah dan gelisah yang tak kunjung lekang.
Laki-laki itu mematung sembari memelototi kopi nya yang hitam, pekat, serupa langit malam itu. Ia tinggikan cangkir, menaruhnya pada bibir, diseruputlah kopi rasa cemas itu dengan perlahan. tersendat-sendat, seperti akan kehabisan nafas. Menyeruput kopi semestinya membawa kedamaian ke dalam jiwa, batinnya berharap. Ia seruput kembali kopinya sampai habis, tak tersisa. Namun, tiada yang berubah, rasa cemas itu justru bercampur dengan ampas kopi, melekat kuat di bibirnya yang tak merah. Renyah ketawanya telah dibawa terbang oleh asap rokok yang berhamburan dari bibirnya, lalu menghilang tak berbekas. Semburat cahaya dari ujung rokok yang dihisap dalam-dalam begitu menyilaukan, sehingga sorot matanya yang tajam tak lagi mampu membelah kesedihan. Air matanya masih terus berjatuhan, membasahi kerongkongan hingga ke paru-paru, menyuburkan sesak yang tertancap di dadanya.
Laki-laki itu aku, laki-lakimu yang menjadi tak berdaya.
Sementara dalam ruang yang begitu sunyi, seorang wanita bertubuh sintal terbaring lemas, seluruh tubuhnya penuh dengan cemas. Matanya gelisah, mengingatkan pada riak ombak di pantai selatan, menggulung memanjang terpotong-potong. Mematikan. Bibirnya membisu, di wajahnya tergambar pilu. Ia menunggu namun tak ingin (benar) menunggu. Bagai tersesat dalam hutan belantara tanpa petunjuk arah, sang rembulan juga sedang pelit untuk sekedar membagi sinarnya sebagai penuntun langkah. Wanita itu benar-benar linglung. Ia naik perlahan lalu jatuh pada ketiadaan.
Batinnya mungkin saja berteriak, merontah meminta tolong. Namun, tak sekalipun bibirnya yang lembut itu menjerit. ia telah melupakan gemetar di dadanya, memagarinya dari setiap resah yang mendekat. Entah bagaimana ia melakukannya, air matanya seakan telah tertampung oleh rasa berserah, sehingga tak setetes pun tumpah. Pada pundaknya bertumpuk segala pengharapan. Kakinya yang kuat terus saja melangkah penuh keyakinan, seakan telah melihat jalan keluar. Semakin terjal jalan, semakin langkahnya tak dapat dihentikan.
Iya, dia wanita yang tangguh, wanita yang begitu aku cintai. Gandis namanya.
Sayangku, kau dan aku sependapat, malam itu terasa begitu lambat. Waktu seakan telah berhenti, sang fajar pun enggan menghampiri. Kau dan aku terkurung dalam gelap, berselimut ketakutan, kita terlelap. Kau dan aku bersama, berbagi resah yang sama. Kau dan aku saling menguatkan, tak ada detik berlalu tanpa saling mendoakan. Kau dan aku satu, meski terkadang dipisahkan oleh ketakutan-ketakutan yang enggan menyatu.
Malam-malam berikutnya begitu adanya, rasanya masih begitu lama. Matahari belum juga tersingkap, bagai ditelan bumi. Seperti telah kehilangan siang, setiap waktu seperti jam 12 malam, tanpa hiasan bintang juga cahaya rembulan. Setiap nafas, setiap langkah, dan setiap tenaga yang kita upayakan kala itu adalah ketakutan yang harus kita lawan. Begitulah, setidaknya dari akhir Januari hingga awal Maret. Kita terbelenggu.
Di bawah rembulan abu-abu itu, kau terus melangkah, mendayung, membelah telaga di mataku, menyeka peluh di dadaku. Hatimu berkilauan, memberi terang dalam kegelapan. Sekali lagi kau menjadi tempat bermukim segala pengharapan.
Kakimu kini telah sampai di seberang. Wajahmu menjadi begitu datar. Aku melihat air mata tertampung dalam indah matamu. Tak jatuh memang, namun air mata itu telah membanjiri seluruh organ di tubuhmu, mengalir bersama darah. Aku lupa wajahku kala itu, aku hanya mencium lembut keningmu, mengelus rambutmu yang mulai kasar karena lupa keramas, lalu memelukmu dengan sangat erat. Tubuhmu menggeligis seperti ingin kembali.
Seketika aku lepaskan pelukan, pada pipimu ku rekatkan kedua tangan. Dengan sorot mata yang amat tajam, aku berusaha meyakinkanmu bahwa kakimu telah berpijak di tempat yang diimpikan, bahwa dengan kembali sama halnya memupuk luka. Aku mengajakmu melanjutkan langkah, bawa serta perasaanmu yang masih berkecamuk, sebab kini bahuku menjadi sangat kuat, letakkan semua beban di sana. Sebab kini, Laki-lakimu telah kembali.
Dari ufuk timur, sang fajar mulai tampakkan diri, setelah sekian lama bersembunyi. Dengan cepat ia menaiki langit. Cahayanya menguningi seisi bumi. Angin menyapa tenang, pohon-pohon di taman kota itu pun menari. Awan kalis bergelantungan, bermain bersama, berkejaran satu dengan yang lainnya. Langit tampak benar-benar gembira, warnanya biru terang. Tersenyum hangat pada kita berdua.
Kau dan aku pun tak sanggup membendung kegemberiaan siang itu. Kita mulai bertukar canda dan tawa. Rasa syukur berjatuhan tanpa sanggup kita kendalikan. Segala kecemasan dan ketakutan yang sekian malam mendera seketika gugur berjatuhan. Seperti hidup baru akan kita mulai. Hari itu memang bukan 17 Agustus, namun kita merdeka.
Kita telah kembali. Senjamu kini tampak lebih indah, setelah kau lupakan pada banyak sore.
Aku ingin duduk di tepi danau, sebagai tempat untuk kita jatuh cinta berkali-kali. Pada bahuku sebelah kiri ada kepalamu rebah. Rambutmu berkilat-kilat keemasan oleh senja sore itu. Di sekeliling danau, berdiri gagah pohon bungur yang bunganya beguguran. Angsa-angsa putih berenang pelan, memutari seisi danau. Sayapnya sesekali memercikkan air danau yang coklat kekuningan. Seperti sedang menghibur kita berdua. Kita duduk tenang di sana, menikmati senja hingga habis.
Bersamamu, senja adalah keindahan yang tak mungkin dilewatkan. Untukmu, senja menjadi bingkisan wajib dalam setiap perjalanan.
Kau dan aku kembali.
***
Sayangku, rasanya menyenangkan sekaligus membanggakan bisa berada di sampingmu, menjadi satu-satunya yang kau cintai hingga detik ini. Meskipun terpaan datang dari segala penjuru, cobaan menusuk bagai peluru. Kita bertahan, melewati setiap rintangan.
Kau tahu, aku bukan orang yang terbiasa berdiam diri dengan waktu yang cukup lama. Kau tahu, aku bukan orang yang hatinya bisa dengan mudah ditaklukkan.
Namun di pekaranganmu, aku menjadi betah berlama-lama, dalam pelukmu aku merasakan kantuk yang luar biasa, di sana aku ingin terlelap. Dan pada hatimu aku telah benar-benar jatuh, tanpamu jiwaku rapuh. Maka hanya denganmu aku utuh. Sungguh.
Sebagai lelaki, aku (mungkin) pernah menyakitimu, mengkhianatimu, membuatmu menangis di pojok kamar semalaman. Kau terluka.
Aku orang yang penuh kekurangan, aku orang yang masih butuh banyak belajar. Aku tak benar-benar pandai bersyukur. Jauh dari kesempurnaan. Tapi bukankah atas segala kekurangan yang ada padaku kau datang untuk menjadikan hidupku sempurna, menjadikan hidupku penuh warna. Sayang, Bersamamu aku tak butuh keindahan yang diimpikan banyak orang. Segalanya terasa cukup. Percayalah.
Ini aku adanya, sayang. Aku tak sesempurna kau di mataku. Terima aku, cintai aku sebagai orang yang selalu berusaha memberimu bahagia, lagi dan lagi. Sempurnakan setiap kekurangan yang kau temui dalam diriku. Seperti aku, tak perlu menunggu segala yang ada di dirimu sempurna. Andaipun kekurangan itu ada padamu, maka datanglah padaku, bawa semua kekuranganmu itu. Selama aku sanggup mengatasinya, ikhlas menerimanya, kekuranganmu itu tak lagi penting, kekuranganmu bukanlah persoalan, aku tetap memilihmu. Dan aku yakin. Tapi tidak, sayang. Kau terbebas dari segala macam kekurangan, segala yang ada di dirimu adalah kebaikan bagiku, kau sempurna. Di mataku.
Percayalah, kau masih bisa bahagia memilikiku. Yakinlah, bahagia selalu tentang menerima dengan lapang. Seperti aku.
Sayang, aku tak memintamu untuk melupakan semua dosaku. Ingatlah, mencintai bukan tentang melupakan, sang pecinta adalah pengingat paling baik. Ingat dosaku sedalam kau bisa. Ingat dosaku sebagai cara untuk menuntunku menjadi lebih baik. Aku hanya berharap kau mau berbesar hati untuk selalu memaafkan, merelakan hatimu yang suci untuk aku cintai, dan menyediakan tempat bagi setiap senja yang ku bingkai untukmu pada banyak sore.
***
Sayang, ini ulang tahun keduamu bersamaku. Aku bersyukur, bahwa untuk sampai pada titik ini banyak jalan terjal yang harus kita lalui, kesabaran begitu sering diuji.
Sengaja aku tuliskan kisah yang teramat pilu di awal, sungguh bukan maksudku mengulang ingatan. Ini hanya sedikit cara untuk menyadarkanmu bahwa kita begitu kuat, bahwa setiap lorong gelap mempunyai akhir yang terang.
Selamat ulang tahun, sayang. Tak ada doa dariku, sebab mimpimu adalah mimpiku. Jadi tetaplah di sini, jadilah bagian dari terwujudnya mimpi-mimpi indah itu. Sebagai penutup, izinkan aku mencintaimu, menjagamu, menemanimu seperti kau yang telah bersedia menemaniku berjuang, mengarungi pasang surut kehidupan. Izinkan aku, sayang.
Oktober, 2016
Dalam Indah Matamu
#GOTW
Komentar
Posting Komentar