Desember tahun kedua

Sayang, ini Desember, tepat setahun yang lalu sesuatu yang buruk telah pernah terjadi di bulan ini, sebuah luka terpahat pada tiap-tiap ruas tulangmu. Desember yang membuatmu terjerembab jauh ke ingatan masa lalu, membangkitkan kembali kegelisahanmu akan masa depan, akan pahitnya romansa sebuah hubungan. Air mata menggenangi pelupuk matamu tak kurang dari sebulan, kau meringkik menahan perih yang berkepanjangan, seolah tengah menghadapi badai yang tak berkesudahan.
Iya ini desember, bulan pesakitan barangkali bagimu. Desember tahun ke satu.

Sayang, suara terompet mulai terdengar, kembang api telah dipersiapkan sebagai penanda bahwa malam itu adalah dimulainya harapan-harapan baru. Di jalan, di taman, alun-alun hingga gang-gang sempit kota ini telah dipenuhi oleh orang-orang yang pada matanya tergambar jelas harapan-harapan baru itu. Seolah telah menutup rapat segala kisah pahit dalam hidupnya, semua orang larut dalam suasana yang gembira. Sembari menunggu detik-detik menuju jam dua belas malam, mereka mulai berkumpul, merapatkan barisan, merekatkan genggaman bersama orang-orang terkasih. Di depan tepat dimana aku berdiri, pelbagai kemesraan tehampar jelas, beberapa orang berpegangan tangan, melempar canda tawa satu dengan yang lain, bahkan tak sedikit pula yang berpelukan (aku menduga kuat mereka ini pasangan yang sedang dimabuk asmara). Suara terompet kian detik kian menggema, dalam hitungan mundur, dan doooorrrr dentuman kembang api satu per satu mulai menghujam langit, seketika langit malam memerah, membiru, menguning, menghijau, bahkan mungkin juga kelabu. Langit menjadi lukisan yang teramat cantik, terlebih mungkin bagi mereka yang menikmatinya dengan orang terkasih.
Aku?? Kemana aku?? Jangan tanya aku, karena aku mungkin seperti suara terompet yang menghilang bersama kerasnya dentuman kembang api, tenggelam oleh pekikan-pekikan bahagia orang-orang itu. Seolah menjadi magnet setiap mata tertuju ke atas, menyaksikan indah langit malam itu. Kecuali aku. Dalam ketidak percayaanmu, aku tetap mencarimu.
Hanya aku.

Aku memang tak tau pasti kau dimana malam itu. Aku hanya mencarimu pada tumpukan ingatan, membuka kembali lembar demi lembar kisah tentangmu. Aku mencoba membingkaikan untukmu warna langit malam itu meski mungkin tak sejingga senjamu. Bukan, bukan untuk menghapus luka yang telah aku buat, bukan pula sebagai pengganti kehadiranku di sisihmu. Aku melakukannya hanya karena dalam pikiranku kau tengah terkurung dalam gelap. Berharap dapat mengirim indah langit malam itu ke dalam kamarmu sebagai atap. Sebelum akhirnya aku tahu, malam itu kau tengah berada pada ketinggian ribuan meter di atasku, menyaksikan gemerlap kembang api dari atas. Kau mungkin berdiri di balkon, atau melihatnya dari balik jendela. Aku masih belum tahu pasti. Satu yang pasti, akhirnya aku tahu kau juga menyaksikan betapa indah langit malam itu, mengabadikannya pada tempat yang barangkali jauh lebih baik dari pada tempat dimana aku hanya bisa mengingatmu malam itu.
Indahkah malam mu kala itu, sayang?

Sayang, aku bisa saja bahagia kini, merasa terbabas dari rasa bersalah yang bekepanjangan, serta sesal yang tak berkesudahan. Tapi tidak, sayang. Sebab dalam pikiranku, tak peduli berapa juta meter kamu di atasku, betapa enak tempatmu, bahkan betapa indah malam mu kala itu, aku tetap sebagai pendosa. Aku tak menjadikan malam itu sebagai alasan supaya bisa dengan mudah kau menghapusnya. Barangkali aku orang yang tak dapat dipercaya, bahkan mungkin sampai tulisan ini kau baca pun aku masih menjadi orang yang tak dapat dipercaya. Namun, aku orang yang penuh tanggung jawab atas kesalahan, atas luka yang telah ku buat. Kalaupun luka itu harus sembuh, itu hanya karena aku. Bukan yang lain.

Sayang, Kini, pada desember yang kedua. Bahagiamu adalah mahkota, sementara senyummu adalah perisai bagiku. Maka, izinkan aku bermimpi menjadi yang dapat kau percaya, menjadi tempat untuk meletakkan setiap beban yang ada. Setiap air mata, setiap luka, biarkan aku menyembuhkannya perlahan. Desembermu yang lalu mungkin sudah cukup indah, tapi aku yang lemah ini hanya bisa menjanjikan desember yang tak hanya indah, namun juga terbebas dari lara. Kita bangun bersama harapan-harapan, membuang jauh setiap keraguan. Sebab memang desember semestinya menjadi penutup lembaran-lembaran kisah manis untuk kemudian kembali memulai kisah dan harapan yang jauh lebih manis. Percayalah, hatimu tak akan lagi teriris.

Sayang, takdir bukan menjadi bagian kita, kau dan aku hanya bisa berserah kemana garis waktu akan membawa. Tapi kau tahu, aku masih terus memupuk keyakinan bahwa masa depanmu adalah takdirku. Maka sama seperti pertama kali kita memulai, genggam erat tanganku, mari berjuang bersamaku, mengarungi pasang surut kehidupan.





#GOTW
Surabaya, Desember

Komentar

Postingan Populer