Jangan dibaca, kecuali orang itu kamu


Sayangku, ini ulang tahun pertamamu bersamaku, lelaki yang “barangkali” tak kau impikan namun terlanjur kau lumpuhkan hatinya.

Sengaja aku tuliskan disini sebab aku tahu folder di hapemu sudah tidak cukup ruang untuk menyimpan ucapan selamat dariku. Tapi tak masalah, aku pun tak berharap begitu, sebab hatimu adalah tempat paling nyaman, tempat paling aman untuk aku tuliskan kisah bahagia bertintakan ketulusan ini. Tak seorangpun yang dapat dengan mudah membacanya, apalagi menghapusnya. Simpanlah disana, simpanlah yang rapi! semoga masih kau sisakan tempat untukku.

Sayangku, tentu kau belum lupa saat pertama kali kita pergi berdua, menceritakan banyak hal, aku menatapmu dan kau masih enggan menatapku namun kita tetap bercerita. Sesekali aku membelai rambut panjangmu atau sekedar mengelus pundakmu saat ceritamu terasa begitu menyayat hati. Hanya sedikit cara yang bisa aku lakukan agar dapat menguatkanmu, sebab menggenggam tanganmu akan mengeluarkan lebih banyak keringat di badanku yang memang sudah bercucuran keringat, pikirku. Tawamu yang sebelumnya teramat mewah untuk dapat aku tebus akhirnya kau berikan cuma-cuma saat itu. Sungguh malam yang indah dengan cahaya lilin redup diiringi tetabuhan jantung yang terus berdegup, gemuruh hujan yang membuat suaramu terdengar sayup manja seakan menyempurnakan malam itu. Hari-hari berikutnya “kita” lalui dengan lebih mudah, lebih tepatnya “aku” bukan “kita”. Bagaimana tidak, setelah malam itu akhirnya aku dapat menatapmu tanpa harus mencuri-curi, mengenggam tanganmu pun bisa aku lakukan walaupun masih dengan detak jantung yang tak beraturan dan tetap butuh sedikit keringat, tapi setidaknya malam itu sudah meringankan bebanku untuk mengenalmu lebih jauh. Sejak malam itu namaku jadi lebih sering muncul di layar hapemu, hampir tidak ada hari yang kita lewati tanpa bercerita, bercanda, dan tertawa. Tai kucing rasa coklat, katanya. Tersenyumkah engkau sekarang, sayangku? Terimakasih kau mengingatnya dengan sangat baik. -__- Sayangku, yang perlu kau sadari sekarang bahwa perkenalan, kencan pertama, hingga ikatan yang tanggalnya masih terus kita perdebatkan itu semua terjadi atas dasar ketidak sengajaan. Oleh sebab itu jangan lagi kau tanyakan kenapa atau bagaimana ini terjadi.

Sayangku, ternyata waktu berjalan jauh lebih cepat dari yang ku perkirakan. Malam yang membuat jantungku hampir longsor, malam yang menjadi awal sebuah cerita yang aku tulis ini adalah bulan april atau sekitar enam bulan yang lalu, iyaa aku masih mengingatnya. Meskipun enam bulan bagimu tak ubahnya seorang anak bayi yang baru bisa tengkurap, bagiku tidak demikian, enam bulan yang kita lalui hingga hari ini adalah waktu yang sangat berarti juga warna-warni bak pelangi yang indah apa adanya. Tak sedikit pelajaran yang sama-sama kita dapatkan, tak sedikit pula pergulatan batin yang harus kita damaikan. Tanpa sadar ternyata dinamika semacam itu yang justru semakin merekatkan perasaan kita hari demi hari. Lagi-lagi ini bukan hanya tentang waktu, sayang. Aku pun sadar bahwa dibalik setiap kebahagian yang coba ku persembahkan juga beban teramat berat kau rasakan. Terlalu seriuskah aku, terlalu dalamkah aku hingga kau merasa terbebani? Bukankah cinta memang seharusnya serius dan mendalam. Bahkan, sebagian orang bilang bahwa patah hati adalah cara cinta ngajak bercanda. Lantas apa yang salah jika akhirnya cerita kita begitu mendalam dan serius, salahkah aku yang hanya berusaha meneruskan jalan yang sudah takdir pilihkan? Ah sudahlah, yang pasti aku tak akan membiarkan beban itu kau tanggung sendirian. Percayalah, setiap pikiran yang kau curahkan untukku, setiap waktu yang kau habiskan bersamaku, bahkan air mata yang sempat kau teteskan di bahuku tak akan sia-sia. Aku akan menggantinya dengan kebahagian sebanyak bintang, tak terbilang. Sekali lagi aku yakinkan padamu bahwa cinta akan menghapus rasa takutmu, menenangkan gelisah dalam dadamu, serta menjamin masa depanmu. Lelaki yang sering membuatmu kesal ini hanya butuh waktu sedikit lebih lama. Semoga masih ada sisa kesabaran dalam hatimu.

Sayangku, yang selalu aku percaya bahwa cinta tidak mengenal tanda jasa maupun hutang budi. Itu sebabnya ibu yang melahirkan, merawat, sampai membesarkan “seharusnya” tidak akan merasa berjasa pada anaknya. Seorang ibu melakukannya dengan penuh keikhlasan tanpa berfikir balasan apa yang akan ia dapatkan. Seorang ibu hanya bisa bahagia melihat anaknya tumbuh menjadi orang hebat. Oleh sebab itu aku tak ingin kita terlalu larut dalam perdebatan mengenai hutang budi atau jasa. Tak ada yang kau rubah dari hidupku, akupun tidak merubah apapun darimu. Kau tetap menjadi dirimu, akupun tetap menjadi diriku, kita hanya melewati waktu bersama, dan berusaha saling melengkapi. Jadi, meskipun aku mempunyai keinginan yang teramat kuat untuk membahagiakanmu tentu bukan karena kau terlalu berjasa padaku melainkan karena kau memang harus aku bahagiakan, kau orang yang aku kasihi, kau pantas mendapatkannya. Barangkali ini jawaban atas kebimbangan yang sempat kau tanyakan padaku mengenai ketulusan. Lah, ngomong apa sih aku ini? Ini kan hari ulang tahunmu.

Selamat ulang tahun sayangku, wanitaku. Tetaplah menjadi wanita tangguh dan rendah hati, wanita yang memiliki stok kesabaran tak terhingga. Mulailah berdo’a, meminta pada Tuhan agar dihilangkan bimbang di hatimu. jangan membuat Tuhan menunggu. Kau tahu? Kau adalah harapan yang selalu ingin ku segerakan, telah kudamaikan kau dalam cemasku, telah kudoakan gelisahmu dalam sedihku. Bila pendosa sepertiku saja berani memohonkan kebaikanmu lantas masih adakah rasa takut berkecamuk dalam hatimu. Sayangku, di awal aku hanya bilang ini ulang tahun pertamamu bersamaku, tentu aku tak berharap ini menjadi yang terakhir, jadi mari ulurkan tanganmu biar aku gandeng menuju ulang tahun kedua, ketiga, hingga ke pelaminan. :D


Surabaya, Oktober
#GOTW

Komentar

  1. Selamat ulang tahun, kesayangan.aku titiprindu, sampai ke pelamainan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer