KAMU : KUTUKAN YANG TAK PERNAH KEHILANGAN MAKNA

Ini untukmu, wanita yang membuatku merasa menang bahkan dalam kekalahan.

Aku ini pendusta yang ulung sebelum sorot matamu memasungku, membuatku tak lagi pandai berpura-pura. Begitulah kira-kira aku mencoba meyakinkan hatimu yang penuh perasangka.

Sayangku, kau tahu? Betapa banyak yang berubah dari diriku setelah jantungku berdebar kencang oleh manismu, betapa banyak yang telah ku ikhlaskan pergi bahkan menghilang hanya untuk menikmati senja bersamamu, betapa sering mataku tampak kosong tanpa kabar darimu, dan betapa sering aku terlihat tak berdaya oleh bisikmu. Kau merenggut segalanya dariku lalu kau hanya tawarkan padaku sebuah mimpi yang masih biru bak langit dan lautan. Sayangku, ini bukan keluh kesah, aku menikmati setiap nafas yang ku hembuskan bersama namamu, sungguh aku tidak pernah melewati waktu tanpa menyediakan ruang untukmu bermain di kepalaku. pahami ini sebagai rasa syukurku atas cinta yang kau tiupkan tanpa henti.  

Sayangku, barangkali kau sudah mulai bingung apa yang sebenarnya terjadi, aku pun tak bisa menjelaskan ini. "Bagaimana bisa aku merasakan panas di kutub utara, kedinginan di gurun sahara. Aku ini sepeti orang linglung bukan karena kehilangan arah, justru karena tujuan itu kian dekat membuat jiwaku seakan terikat. bila saja ini sebuah pertanyaan sungguh aku tidak ingin menjawabnya, biarkan ini tetap menjadi tanda tanya, karena tenyata cinta memang tak bisa dengan mudah diaksarakan. yang ku tahu, aku telah memilikimu (tanpa harus diukur dan ditimbang).

Sayangku, waktu memang tidak berpihak kepadaku. aku datang di saat semuanya sudah tertata rapi hampir tanpa celah. Iya, aku terlambat namun tentu bukanlah penghambat. jika waktu adalah sebuah perlombaan, orang bisa bilang aku telah kalah. Namun,  kau dan aku tentu percaya jika cinta hanyalah sebuah waktu, Muhammad tidak berarti apa - apa dibanding Adam. Bukankah sudah menjadi ketentuan_Nya bahwa yang istimewa datang belakangan sebagai penyempurna dari sesuatu yang "terlihat" rapi. lantas untuk apa aku harus menghakimi diriku sebagai orang yang kalah? aku masih bisa menjadi pemenang. ah, cinta yang maha sublim kini tak ubahnya sebuah perlombaan (menang atau kalah). Sayangku, aku fikir menang kalah tak lagi dapat diperdebatkan. Di ujung bibirmu yang anggun aku dapat merasakan manisnya kemenangan, di balik jenggala matamu yang kelam, aku juga dapat merasakan getirnya kekalahan. Entahlah, teka teki macam apa yang sedang berusaha aku pecahkan. 

Sampai disini kau masih merasa bingung? tenang, kau tidak sendirian. aku juga masih bergulat dengan kebingunganku. Andai rencana tuhan sepasti matematika atau sepraktis hukum fisika (walaupun aku tidak mengerti keduanya), barangkali aku akan dengan mudah menganggap ini adalah balasan atas apa yang aku lakukan di masa lalu, persis seperti yang sering kau katakan. Namun, aku kira memahami rencana tuhan tidaklah sesederhana dan seringkas air mengalir. Sebab tuhanku yang maha baik tidak akan membuat makhluknya terluka. Aku yakin itu!
Sayangku, memilikimu ternyata membuatku lebih sering bersyukur, cintamu, mengajariku bagaimana menjadi laki-laki, dan senyummu adalah kenikmatan yang akan terus aku perjuangkan.
ohhh Tuhanku.... aku mencintai kenyataan bahwa aku bahagia oleh cinta yang "sepertinya" tak utuh.


*dalam bilik, 4 juni    #GOTW

Komentar

Postingan Populer