Desember tahun kedua
Sayang, ini Desember, tepat setahun yang lalu sesuatu yang buruk telah pernah terjadi di bulan ini, sebuah luka terpahat pada tiap-tiap ruas tulangmu. Desember yang membuatmu terjerembab jauh ke ingatan masa lalu, membangkitkan kembali kegelisahanmu akan masa depan, akan pahitnya romansa sebuah hubungan. Air mata menggenangi pelupuk matamu tak kurang dari sebulan, kau meringkik menahan perih yang berkepanjangan, seolah tengah menghadapi badai yang tak berkesudahan. Iya ini desember, bulan pesakitan barangkali bagimu. Desember tahun ke satu. Sayang, suara terompet mulai terdengar, kembang api telah dipersiapkan sebagai penanda bahwa malam itu adalah dimulainya harapan-harapan baru. Di jalan, di taman, alun-alun hingga gang-gang sempit kota ini telah dipenuhi oleh orang-orang yang pada matanya tergambar jelas harapan-harapan baru itu. Seolah telah menutup rapat segala kisah pahit dalam hidupnya, semua orang larut dalam suasana yang gembira. Sembari menunggu detik-detik menuju jam dua ...